Rabu, 15 April 2009

CORAK PENDIDIKAN ALA RASULULLAH

Sebagai pendidik manusia tatkala terjadi penyimpangan-penyimpangan tugas kekhalifahan manusia, sehingga ia membuat perahu untuk menyelamatkan manusia dan budayanya dari ancaman kehancuran (QS. 37:38). Usaha Nuh sebagai i’tibar bagi umat selanjutnya dalam teknologi perkapalan. Berapa kurun kemudian, Allah mengutus seorang arsitektur yang mampu menggelarkan karyanya dalam perkembangan sosial budaya dan tata tradisi perkotaan dan perkampungan berupa bangunan Ka’bah sebagai pengganti budaya arca (asnam). Arsitek tersebut adalah Nabi Ibrahim yang membangun Ka’bah sebagai sentral ritual umat Islam disamping memiliki estetika yang merupakan bangunan keajaiban dunia.
Rasul-rasul berikutnya memiliki andil besar dalam menancapkan tonggak sejarah dan kebudayaan manusia, misalnya Nabi Yusuf sebagai peletak pembebasan umat dari belenggu penjajahan dan kemiskinan (QS.12:55-56). Nabi Daud yang telah menciptakan peralatan dari besi yang merupakan cikal bakal perkembangan teknologi umat manusia (Q.S. 7:106, 20:46). Sulaiman dengan sistem pemerintahan dan sistem komunikasi yang luas mencakup dunia lain (Q.S.21:80), dan Isa a.s. yang memperkenalkan sistem pengobatan yang menjadi pangkal perkembangan budaya dalam bidang medis (Q.S. 27:16-18), disamping itu, kehadiran Lukman dalam pandangan Al-Qur’an merintis teori baru dalam filsafat pendidikan Islam. Sebagai filosof dalam pendidikan Islam, ia menciptakan azas-azas kependidikan yang dijadikan sebagai referensi dalam operasionalisasi pendidikan Islam dewasa ini, dari aspek metodologi, kurikulum, manajemen pendidikan, dan materi pendidikan (Q.S. 31: 12-19). Sebagai penutup, turunlah karasulan Nabi Muhammad SAW. Sebagai budayawan Kamil yang memperkenalkan umat manusia pada penjelajahan ruang angkasa (Q.S. 55:33). Teori-teori ilmu pengetahuan yang termaktub dalam al-Qur’an sebagi kitab penyempurna dan pedoman bagi perkembangan budaya sains dewasa ini.

b. Al-Qur’an merupakan pedoman normatif teoritis dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Kalam yang tertuang dalam al-Qur’an merupakan dassolen yang harus diterjemahkan menjadi desain oleh para ahli pendidik menjadi suatu rumusan pendidikan Islam yang dapat menghantarkan pada tujuan pendidikan yang hakiki.

2. Sunnah Nabi SAW
Secara sederhana As-Sunnah diartikan sebagai berikut :
“Sunnah dalam arti etimologi adalah perilaku kehidupan (siroh) yang baik dan yang buruk, atau suatu jalan yang ditempuh (at-Thoriq Al-maslukah). Dalam arti terminologi, sunnah adalah segala yang dinukil dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, penetapan atau selain itu.
Robert L.Gullick dalam Muhammad the Educator menyatakan :
“Muhammad betul-betul seorang pendidik yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan yang lebih besar serta melahirkan ketertiban dan kestabilan yang mendorong perkembangan Budaya Islam, suatu revolusi sesuatu yang dimiliki tempo yang tidak tertandingi, dan gairah yang menantang. Dari sudut pragmatis, seseorang yang mengangkat perilaku manusia adalah seorang pangeran diantara pendidik.
Kutipan itu diambil dari sebuah ensiklopedia yang melukiskan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi, pemimpin militer, negarawan dan pendidik umat manusia.
Konsepsi dasar pendidikan yang dicetuskan dan dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Pada umatnya memiliki corak sebagi berikut:
a. Disampaikan sebagai “rahmatan lil’alamin” yang ruang lingkupnya tidak hanya sebatas manusia, tetapi juga pada makhlik biotik dan abiotik lainnya (Q.S. 21:107)
b. Disampaikan secara “universal” mencakup dimensi kehidupan apapun yang berguna untuk kegembiraan dan peringatan bagi umatnya. (Q.S. 34:28)
c. Apa yang disampaikan merupakan “kebenaran” yang mutlak (Q.S. 2:119), dan keotentikankebenaran itu terus terjadi (Q.S. 15:9)
d. Kehadiran Nabi sebagai “evaluator” yang mampu mengawasi dan terus bertanggung jawab atas aktivitas pendidikan (Q.S. 42:48, 33:45, 48:8).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar